
Zoals al vaker beschreven, reisde Arend Luttik in oktober 1946 met de Tegelberg naar Indonesië. Wat schetst mijn verbazing als ik de Tegelberg tegenkom in het meeslepende stripverhaal Rampokan van Peter van Dongen. Niet alleen is het schip te zien, het gaat om dezelfde reis van oktober 1946. Rampokan gaat over de fictieve Nederlandse soldaat Johan. Het is maar een naam. 😉
Peter van Dongen heeft een Nederlandse vader en een Chinees-Indische moeder en een grote verbondenheid met Indonesië. Rampokan is een harde en eerlijke weergave van de koloniale oorlog die Nederland voerde en geeft zo ook een behoorlijk realistisch beeld van de situatie waarin Arend Luttik belandde. De tekeningen zijn zodanig filmisch dat Rampokan ook scenes van de film De Oost heeft geïnspireerd.
Zo is de tocht van de Tegelberg vereeuwigd in een verhaal dat inmiddels in diverse talen, ook Indonesisch, is verschenen en houdt het daarmee het lot van de opvarenden van toen in herinnering.
Op 3 oktober 2026 zal aan de Javakade in Amsterdam het vertrek van de Tegelberg worden herdacht: mstegelberg.nl.
Rampokan
Seperti yang sudah beberapa kali saya ceritakan, pada Oktober 1946 Arend Luttik berlayar ke Indonesia dengan kapal Tegelberg. Betapa terkejutnya saya ketika menemukan kapal Tegelberg dalam komik yang begitu memikat, Rampokan, karya Peter van Dongen. Bukan hanya kapalnya yang terlihat, tetapi yang digambarkan adalah perjalanan yang sama, pada Oktober 1946.
Rampokan bercerita tentang Johan, seorang serdadu Belanda fiktif. Hanya sebuah nama. 😉
Petervan Dongen memiliki ayah berkebangsaan Belanda dan ibu keturunan Tionghoa-Indonesia, serta memiliki ikatan yang kuat dengan Indonesia.
Rampokan merupakan gambaran yang keras dan jujur tentang perang kolonial yang dilancarkan Belanda, dan karena itu juga memberikan gambaran yang cukup realistis mengenai situasi yang dihadapi Arend Luttik ketika ia tiba di Indonesia. Gambar-gambarnya begitu sinematik sehingga Rampokan juga menjadi salah satu sumber inspirasi bagi beberapa adegan dalam film De Oost.
Dengan demikian, perjalanan Tegelberg telah diabadikan dalam sebuah kisah yang kini telah diterbitkan dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dengan begitu, nasib para penumpang yang berada di kapal tersebut pada waktu itu tetap dikenang.

Plaats een reactie