
“12 Oct. 46
Het standbeeld van Ferdinant de Lesseps (de Franse bedenker van het Suez-kanaal) komt uit de ochtendschemering te voorschijn en even later liggen we in Port-Said, de drempel van het Oosten. We zien de typische dracht, zeilboten en…. handelaren, handelaren links, rechts, boven en onder ons. WIJ denken goede zaken te doen, maar ZIJ lachen in hun vuistje. Bij nacht „nemen” we het Suez-kanaal, passeren een andere schuit en hebben het eerste feest aan boord.”
Uit: Historisch overzicht van het 3inch Mortierpeloton van het 3e Bataljon – Garderegiment Grenadiers, 1e Infanterie Brigade Groep, C. Divisie – “7 December”
Op 12 oktober 1946 – nu 80 jaar geleden – waren de mannen van de Tegelberg in Port Saïd aangekomen. Een totaal andere wereld dan ze kenden. Het was nog maar 10 dagen geleden dat zij uit Amsterdam vertrokken. Dat vertrek is afgelopen zaterdag 3 oktober herdacht door een aantal (klein)kinderen van de Tegelbergers.
En in gedachten varen we met de mannen mee. Stellen we ons voor hoe het was. Diverse reisverslagen, zelfs in het Fries, zijn bewaard gebleven. Dus er is uitgebreid verslag gedaan van het slechte eten, de hete dagen, de hangmatten en de verveling aan boord. Ondertussen wordt er elders volop onderhandeld tussen vertegenwoordigers van Nederland en van de nieuwe Republik Indonesia. Dat leidt op 14 oktober tot een wapenstilstand. Zo is er hoop dat onderhandelingen tot een akkoord kunnen leiden.
Eind oktober meert eindelijk de Tegelberg aan in Tanjong Priok, de haven van Batavia/Jakarta. De mannen gaan van boord. Het einde van een reis, het begin van hun daadwerkelijke inzet in Indonesië. De hoop op een spoedig akkoord werd bewaarheid. Al in november werden afspraken gemaakt in Linggajati. Deze overeenkomst hield uiteindelijk geen stand, zodat een langdurige en uitputtende oorlog begint.
Bij de herdenking op 3 oktober stonden we stil bij het vertrek. Meer nog bij de gevolgen van de reis naar en het verblijf in Indonesië. Het is moeilijk voor te stellen hoe lang en diep dit heeft doorgewerkt. De verhalen die op mstegelberg.nl worden gedeeld, geven daar een beeld van. En dan is het duidelijk dat die verhalen het verdienen om verteld te worden. Zo lang als het nodig is.
12 Oktober 1946
“12 oktober
Patung Ferdinand de Lesseps (tokoh Prancis yang menggagas Terusan Suez) mulai tampak dari balik remang-remang fajar. Tak lama kemudian, kami tiba di Port Said, gerbang menuju dunia Timur. Kami melihat pakaian tradisional yang khas, perahu-perahu layar, dan… para pedagang, pedagang di kiri, kanan, atas, dan bawah kami. KAMI mengira telah berhasil mendapatkan harga yang bagus, tetapi MEREKA diam-diam menertawakan kami. Pada malam hari, kami ‘menaklukkan’ Terusan Suez, berpapasan dengan kapal lain, dan mengadakan pesta pertama di atas kapal.”
Dikutip dari: Historisch overzicht van het 3inch Mortierpeloton van het 3e Bataljon – Garderegiment Grenadiers, 1e Infanterie Brigade Groep, C. Divisie – “7 December” (Tinjauan Sejarah Peleton Mortir 3 Inci, Batalyon ke-3, Resimen Garda Grenadier, Grup Brigade Infanteri ke-1, Divisi C – “7 December”).
Pada 12 Oktober 1946 – tepat 80 tahun yang lalu – para prajurit yang berada di atas kapal Tegelberg telah tiba di Port Said. Mereka memasuki dunia yang sama sekali berbeda dari dunia yang selama ini mereka kenal. Baru sepuluh hari sebelumnya mereka meninggalkan Amsterdam. Keberangkatan itu diperingati pada hari Sabtu lalu, 3 Oktober, oleh sejumlah anak dan cucu dari mereka yang dahulu berlayar dengan Tegelberg.
Dan dalam benak kami, seolah-olah kami ikut berlayar bersama mereka. Kami mencoba membayangkan bagaimana rasanya berada di sana. Berbagai catatan perjalanan masih tersimpan hingga kini, bahkan ada yang ditulis dalam bahasa Frisia. Berkat catatan-catatan tersebut, kita dapat membaca kisah yang cukup terperinci tentang makanan yang buruk, hari-hari yang panas, tempat tidur gantung, serta kebosanan selama berada di atas kapal.
Sementara itu, perundingan sedang berlangsung secara intensif antara perwakilan Belanda dan Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada 14 Oktober, perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan gencatan senjata. Hal ini menumbuhkan harapan bahwa melalui perundingan, kedua pihak akhirnya dapat mencapai suatu kesepakatan.
Pada akhir Oktober, kapal Tegelberg akhirnya merapat di Tanjung Priok, pelabuhan Batavia/Jakarta. Para prajurit turun dari kapal. Berakhirlah sebuah perjalanan, sekaligus dimulailah penugasan mereka yang sesungguhnya di Indonesia.
Harapan akan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat ternyata sempat menjadi kenyataan. Pada bulan November, kesepakatan dicapai di Linggajati. Namun, perjanjian tersebut pada akhirnya tidak bertahan, sehingga pecahlah perang berkepanjangan yang menguras tenaga dan membawa penderitaan besar.
Dalam acara peringatan pada 3 Oktober, kami mengenang keberangkatan mereka. Namun, lebih dari itu, kami merenungkan dampak dari perjalanan dan masa tinggal mereka di Indonesia. Sulit membayangkan betapa lama dan mendalamnya pengalaman tersebut terus memengaruhi kehidupan mereka, bahkan generasi-generasi sesudahnya.
Kisah-kisah yang dibagikan melalui mstegelberg.nl memberikan gambaran tentang hal itu. Dan dari kisah-kisah tersebut, semakin jelas bahwa semua pengalaman ini layak untuk terus diceritakan.
Selama masih diperlukan.














Geef een reactie